Jumat, 13 Maret 2009

Rabu, 25 Februari 2009

Silas

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search
Saint Silas

Bishop and Martyr
Died c. AD 50, Macedonia
Venerated in Roman Catholic Church, Eastern Catholic Churches, Eastern Orthodoxy, Oriental Orthodoxy, Anglicanism, and Lutheranism
Feast January 26 (Evangelical Lutheran Church in America)
February 10 (Lutheran Church - Missouri Synod)
July 13 (Roman Martyrology)
July 30 (Eastern Orthodoxy)
July 13 (Syriac, Malankara Calendars)

Saint Silas or Saint Silvanus (flourished 1st century) was a leading member of the early Christian community, who later accompanied Paul in some of his missionary journeys.

There is some disagreement over the proper form of his name: he is consistently called "Silas" in Acts, but the Latin Silvanus, which means "of the forest", is always used by Paul and in the First Epistle of Peter; it may be that "Silvanus" is the Romanized version of the original "Silas", or that "Silas" is the Greek nickname for "Silvanus". Fitzmyer points out that Silas is the Greek version of the Aramaic "Seila", a version of the Hebrew "Saul", which is attested in Palmyrene inscriptions.[1] The name Latin "Silvanus" may be derived from pre-Roman Italian languages (see, e.g., the character "Asilas", an Etruscan leader and warrior-prophet who plays a prominent role in assisting Aeneas in Virgil's epic poem the Aeneid).[citation needed]

St. Silas is currently commemorated in the Calendar of Saints of the Evangelical Lutheran Church in America on January 26 with Timothy and the Apostle Titus, and separately on February 10 by the Roman Catholic Church and by the Lutheran Church - Missouri Synod.

[edit] Life

Silas first appears in Acts (15:22-29) with Barnabas, after the Council of Jerusalem, as carrying a letter with the council's decision, to Antioch. After his disagreement with Barnabas over John Mark (Acts 15:37-40), Paul then selects Silas to accompany him west to Derbe, Lystra (where they recruited Timothy), Troas, Philippi, Thessalonica and Beroea, where he remained with Timothy while Paul continued to Athens (Acts 16, 17). Both of them are said to rejoin Paul in Corinth (18:5), but neither Silas or Timothy are said to accompany Paul when he sailed to Ephesus, where Silas disappears from Acts.[2] Acts (16:37) also implies that he is a Roman citizen.[3]

Although Paul's own surviving letters confirm that Silvanus was with him in Corinth when he founded the church there (2 Corinthians 1:19), and listed as one of the authors of First and Second Epistle to the Thessalonians, a part of the canon of the New Testament, 1 Thessalonians 3:1-5 implies that Silvanus and Timothy were with Paul in Athens, and explicitly states that Timothy was sent back to Thessalonica to investigate their problems.[4] Ernest Best notes that "there is nothing in the Pauline letters to determine his relationship to Silvanus."[5]

A Silvanus is mentioned in the First Epistle of Peter (5:12) as the amanuensis who wrote down Peter's dictation; he is usually identified as the same person as the companion of Paul.[6] If this letter is a pseudonymous work, then Silvanus' name was added to it to give it greater plausibility.[7] If this letter is the authentic work of Peter, and this is the same Silvanus, then at some point after Silvanus left Corinth he came to Rome, and likely afterwards traveled to Pontus and Cappadocia to deliver this letter.

Silas' ultimate fate is unknown.

Jumat, 26 Desember 2008

PASAR MURAH di GASIBU BANDUNG






oleh : Silas
Minggu pagi yang cerah, sebelum mandi paling enak kalau joging ke daerah gedung sate lalu mampir ke pasar murah gasibu. Pasar murah gaasibu sudah ada sejak tahun 2000, pasar ini buka hanya pada hari minggu dan tahun baru saja, pasar ini sudah buka sejak pukul 04.00 Wib dan tutup pada pukul 13.00 wib. Disini anda bisa mendapatkan barang-barang dengan harga terjangkau. Setiap minggu banyak sekali orang yang berkunjung ke sini, mulai dari orang dewasa, anak-anak, kakek-kakek, nenek-nenek bahkan orang gila juga suka disini.
Banyak sekali barang-barang yang di jual di pasar ini, mulai dari sepatu,pakaian, boneka, pencatok rambut dan banyak lagi barang-barang yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu. Pada umumnya para pedagang berasal dari luar bandung, bahkan ada yang berasal dari luar pulau jawa yaitu mayoritas orang padang, mengapa ya tidak ada orang kalimantan???
Sistem izin tempat perdagangan orang gasibu yaitu sistem sewa lahan kepada orang yang berpengaruh terhadap daerah tersebut. Menurut salah seorang pedagang yang menjual kerajinan gantungan nama dari kain. Banyak sekali orang yang mencari rezeki di pasar murah gasibu ini, mulai dari mejadi penjual, pengamen, pemain topeng monyet, menyewakan kuda, delman....dan lain-lain
Jalanan macet, suara klakson kendaraan yang sahut-menyahut, petugas kepolisian yang sibuk menjaga keamanan dan lalu lintas, serta orang yang berjalan lalu-lalang....itulah momen pada setiap hari minggu di sini. Jangan kaget kalau sedang menikmati makanan disana tiba-tiba datang kelompok-kelompok pengamen yang secara silih berganti menghampiri para pengunjung yang sedang menikmati makan. Di pasar ini siapa saja boleh berkunjung dan memilih barang sepuasnya tanpa kuatir dengan harga karena barang-barang yang dijual harganya relatif murah dan lengkap, anda bebas memilih barang disini. Bagi orang yang berasal dari pulau jawa jangan lupa kalau main ke bandung mampir dulu ke pasar murah Gasibu, lumayan kan shoping sepuasnya.

Selasa, 18 November 2008

BANYADU’ LANGUAGE

BAHASA BANYADU’

Oleh : Silas

Dapat di katakan bahwa bahasa daerah suku dayak yang paling sulit di mengerti dan di pahami adalah bahasa “banyadu”, ya...setidaknya itulah anggapan orang mengenai bahasa banyadu’. Nyadu’ artinya tidak ada, adalah salah satu jenis bahasa daerah suku dayak yang ada di Kalimantan barat .

Bahasa banyadu’ adalah bahasa yang di gunakan oleh penduduk desa palo bamayak, kecamatan ngabang, kab. Landak, kalimantan barat. Kebetulan ibu saya sendiri berasal dari daerah tersebut. Semenjak kecil ibu saya sering menggunakan bahasa banyadu’ di lingkungan keluarga saya, itulah yang membuat saya lancar mengucapkan nya sampai sekarang.

Menurut teman saya orang bangahe ( menggunakan bahasa ahe) bahasa banyadu termasuk kedalam bahasa yang sulit untuk di mengerti, apalagi untuk di ucapkan. Tetapi tidak begitu halnya dengan orang banyadu’ sendiri, orang banyadu’ menganggap bahwa bahasa bangahe sangatlah mudah untuk di mengerti dan di pahami, orang banyadu’ merupakan orang yang sangat beruntung. Mengapa beruntung??? Jawabnya karena rata-rata orang banyadu’ pada mengerti menggunakan bahasa bangahe serta pengucapannya pun fasih. Saya sendiri dari dulu sudah mengerti bahasa bangahe, namun setelah kuliah di bandung saya menjadi sangat lancar karena di asrama Landak semua pada menggunakan bahasa bangahe ( bahasa persatuannya orang dayak kanayatn)

Bahasa banyadu’ tidak hanya milik orang kampung palo saja lho, tapi banyak juga daerah lain yang menggunakan bahasa banyadu. Itulah yang membuat bahasa banyadu’ terbagi menjadi banyak versi. Ada bahasa banyadu’ yang kasar, sedang, halus bahkan juga ada yang berbeda istilah. Tapi tetap saja mengacu kepada kesamaan pada umumnya. Semoga anda semua tertarik untuk mempelajari bahasa banyadu’ yang unik dan mengesankan ini.

KAMAO’AN NTO’ BARUBAH

KAMAO’AN NTO’ BARUBAH

(THE WILLINGNESS TO CHANGE)

Kala ikin gi’ angot, gi’ bebas unto’ barayal

Ikin bamimpi nto’ ngubah dunia diah

Sajalan gi’ batambah e’ omor kin gi sumangat kin, ikin mamput dunia diah aya’ kala’ barubah

Jadi cita-cita kin kan nyaderhanakan

Gi’ kaputusan nyadu’ ngubah nagari kin, tapi wah e’ da’ diah pun nyadu barasel

Kala omor kin makin patangk, gi’ samangat kin da’ tasisa’

Kin mutuskan unto’ ngarubah kaluarga kin ja’, ayung da’ jeket gi’ ikin

tapi calaka e’ ayung e’ pun nyadu’ bisa kan ngubah

liyah ano, ikin taguringk nunggu ajal manjamput, tiba-tiba ikin nyadar

saandai e’ ikin da’ uru’ barubah

jadi ikin da’ jaji’ taladan, mungkin ikin bisa ngarobah kaluarga kin

lalu barakat ayalan gi panyumangat ayungk’ e’

bisa jaji’ ikin pun mampu ngamaik nagari kin diah

lalu, asi nyangka ikin bisa ngubah dunia diah.

Berasal dari puisi (THE WILLINGNESS to CHANGE)

Yang di terjemahkan oleh silas ke dalam bahasa banyadu’

THE GREAT MOMENT IN SITU LEMBANG


Oleh : silas

Tepatnya tanggal 27 oktober 2008, aku bersama ketiga orang teman ku yaitu: tedy, arief & Ruly (perwakilan GANDAWESI) mengikuti kegiatan gladian panji geografi yang diadakan di situ lembang, acara tersebut bertujuan untuk melatih kader-kader yang siap menjadi pelopor untuk menolong korban bencana alam di indonesia.

Pada awalnya aku sempat terkagum melihat semua peserta yang berasal dari seluruh daerah yang ada di indonesia. Carrier/ransel ukuran jumbo dan berat, sepatu junggle yang siap untuk menggilas medan tanah dengan berbagai merk dan jenis yang berbeda-beda. Baju lapangan dan bendera organisasi serta atribut-atribut kebanggaan setiap organisasi yang berbeda-beda yang menghiasi serunya acara yang akan kami semua ikuti tersebut.

Longmarch di malam hari dengan menempuh jarak kurang lebih 10 KM seakan bukan tantangan yang berat bagi kami semua, baik peserta pria maupun wanita seakan tiada perbedaan dikarenakan bahagianya jalan bareng orang-orang yang berasal dari berbagai karakter dan berkenalan dengan teman –teman baru, hentakkan kaki melalui jalan tanah yang masih dalam tahap pelebaran sungguh gagah sekali kedengarannya, rasa dingin yang menggigit bahkan tiada terasa pada saat itu. Setibanya di barak kopasus semua peserta di persilahkan untuk tidur, namun sampai jam 12 malam pun masih banyak yang saling berkenalan.

Pagi hari sebelum upacara pembukaan gladian panji geografi di buka, semua peserta di bagikan baju putih, syal kuning, topi biru dan peralatan tulis beserta buku-buku. Semua perbedaan organisasi dan latar belakang individu lenyap setelah memakai atribut yang di bagikan. Inilah suasana yang paling menggembirakan, yaitu semua sama dan tidak ada perbedaan. Ucara pembuakaan di buka langsung oleh MENKOKESTRA ( ABURIZAL BAKHRIE ). setelah itu kami semua mendapat kan materi-materi selama 2 hari dari pagi sampai malam oleh para pembicara yang sudah terkenal.

Setiap hari kami semua melakukan kegiatan rutin yaitu, pagi-pagi sarapan pagi, dilanjutkan dengan senam pagi, sehabis itu ke kelas untuk mendapatkan materi, makan siang, dilanjutkan dengan materi lagi, makan malam, materi, tidur. Tidak ketinggalan sholat lima waktu. Semuanya serba mewah, karena kami semua adalah tamu istimewa. Banyak sekali pembimbing kami waktu itu, ada kopasus, wanadri dll. Hari kamis dan jum’at kami aplikasi materi (vertical rescue,water rescue, jungle rescue, membangun camp site, cara menggunakan GPS dan gladi posko).

Akhirnya hari yang di nanti-nanti adalah hari sabtu. Mengapa hari sabtu ???...he2 karena penutup acara tersebut adalah bapak presiden republik Indonesia (PAK SUSILO BAMBANG YUDHYONO) beserta ibu negara (ANI BAMBANG YUDHYONO), banyak sekali yang di dapat dari kegiatan yang berlangsung kurang lebih lima hari ini,,aku tidak akan melupakan acara terbesar yang belum pernah aku ikuti sebelumnya. Terima kasing untuk semua pihak yang telah melaksanakan acara ini,

Kamis, 13 November 2008

KENANGAN GLADIAN PANJI GEOGRAFI

Presiden Memberi Pembekalan Kepada Gladian Panji Geografi Print E-mail
Written by Aris Rahman
Presiden SBY dan Danjen Kopassus pada penutupan “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info)Presiden SBY dan Danjen Kopassus pada penutupan “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info)

(Jawa Barat, MADINA): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu (1/11) siang, memberikan pembekalan kepada para penggiat alam terbuka “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dalam rangka penutupan pelatihan penanganan bencana alam. Pelatihan ini merupakan kerja sama antara Badan Survey dan Pemetaan Nasional (Basurtanal), Mitigasi Bencana ITB, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD, dan Perhimpunan Pecinta Alam Wanadri.

Gladian Panji Geografi memberikan pelatihan yang difokuskan pada pengawasan dan penanganan rawan bencana. Tujuan nya adalah menjadikan personel-personel yang sukarela dan dapat mengapresiasikan kemampuannya dengan terjun langsung sebagai orang terdepan dalam penanganan musibah akibat bencana alam.

Dalam laporannya, Komandan Jendral Kopasus, Mayjen TNI Pramono Edi Wibowo, menyebutkan terdapat 687 peserta, terdiri dari 600 pemuda dan 87 pemudi yang mewakili 26 provinsi dari Sumatera sampai dengan Papua. "Acara ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para pemuda pemudi dalam giat penanggulangan bencana, sehingga dapat menjembatani kerja sama masyarakat, lembaga non pemerintah, dan pemerintah sendiri dalam sebuah bencana," kata Pramono Edi Wibowo.

Sementara itu, Presiden SBY mengingatkan kembali bahwa era globalisasi mendatangkan sisi baik dan sisi buruk. Globalisasi juga mendatangkan benih-benih ketidakadilan yang harus kita tolak. Globalisasi juga memunculkan gaya hidup hedonisme, gaya hidup yang mengatakan bahwa semuanya bisa berjalan baik-baik saja. "Ini bertentangan dengan hakikat kehidupan itu sendiri. Tiap orang dan bangsa pasti mengalami masa dimana untuk mencapai tujuan mulia memerlukan perjuangan, kesabaran, keuletan, mental harus bisa, pikiran positif, jiwa terang, yang merupakan karakter dari manusia dan bangsa yang bersangkutan. Dengan karakter itulah sebuah bangsa bisa menuju masa depan lebih baik," kata SBY.

Oleh karena itu, Presiden mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang bertujuan membentuk karakter, latihan kepemimpinan. "Sesungguhnya semua itu akar dari patriotisme dan nasionalisme yang seharusnya kira pelihara dan bangun," SBY menambahakn.

Presiden SBY beserta Ibu Ani berkesempatan berfoto bersama seluruh anggota Gladian Panji Geografi. Setelah itu, Ibu Ani dan Presiden SBY juga melakukan penanaman pohon di lokasi.

Tampak hadir dalam rombongan Presiden, antara lain, Menko Polhukam Widodo AS, Mensesneg Hatta Rajasa, Mendagri Mardiyanto, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mentan Anton Apriyantono, Menhut MS Kaban, Menneg LH Rachmat Witoelar, Panglima TNI Djoko Santoso, serta Jubir Presiden Andi A. Mallarangeng.

SBY di Situ Lembang: "Anak-anak Indonesia Harus Back to Nature"

SBY memberi pegarahan pada penutupan pelatihan Gladian Panji Geografi di Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info) SBY memberi pegarahan pada penutupan pelatihan Gladian Panji Geografi di Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info)

Anak-anak Indonesia harus mengubah paradigma agar bangsa ini menjadi lebih maju. "Anak-anak bangsa Indonesia harus back to nature, dan juga go local," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pengarahannya kepada para penggiat alam terbuka “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang.

"Rumah tangga, desa-desa, harus menjadi sabuk pengaman dan menjadi sumber pertumbuhan bangsa," Presiden menegaskan.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam, bahkan dunia internasional menyebut Indonesia sebagai mega bio-diversity. "Oleh karena itu, tidak ada di dalam kamus kita bahwa kita kekurangan pangan, kekurangan energi, kekurangan air karena, apabila semua yang kita miliki dikelola dengan baik, maka semuanya cukup untuk bangsa ini, bahkan bisa menolong bangsa lain," kata SBY. Karena itu Presiden mengajak kita untuk melakukan pembangunan yang berbasis pengetahuan, kebudayaan, dan sumber daya.

Dalam kesempatan itu juga, Presiden SBY berpesan kepada seluruh peserta untuk terus bekerja keras, mempererat persatuan dan kebersamaan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Tiga hal yang harus dimiliki oleh setiap bangsa apabila ingin maju, yakni terus meningkatkan kemandirian bangsa, meningkatkan keunggulan serta daya saing yang tinggi, dan meningkatkan peradaban bangsa.

SBY dan Ibu Ani Tanam Pohon Damar

Presiden SBY menanam pohon Damardi depan Mess Kopassus, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) sore. (foto: rusman/presidensby.info) Presiden SBY menanam pohon Damardi depan Mess Kopassus, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) sore. (foto: rusman/presidensby.info)

Tanam dan Pelihara Pohon. Itulah program yang digalakkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dimanapun melakukan kunjungan kerja, SBY dan Ibu Ani secara simbolis menanam pohon. Sabtu (1/11) siang, usai menutup pelatihan Gladian Panji Geografi, SBY dan Ibu Ani menanam pohon Damardi depan Mess Kopassus, Situ Lembang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Di tengah-tengah rintik hujan, Presiden dan Ibu Ani menanam pohon-pohon mungil tersebut yang kelak akan menjadi besar jika dirawat dengan baik. Damar adalah pohon yang dapat mencapai ketinggian 40 Meter. Damar atau Agathis Dammara adalah jenis pohon yang termasuk golongan kayu kelas satu, seperti Meranti dan Kruing.

Sekalipun berharga, bukan kayu pohon Damar yang diminati. Damar justru diambil getahnya. Sejak dahulu getah pohon Damar memiliki nilai tinggi sebagai bahan pembuat pernis dan cat. (mit/pressby.info)