Kamis, 13 November 2008

KENANGAN GLADIAN PANJI GEOGRAFI

Presiden Memberi Pembekalan Kepada Gladian Panji Geografi Print E-mail
Written by Aris Rahman
Presiden SBY dan Danjen Kopassus pada penutupan “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info)Presiden SBY dan Danjen Kopassus pada penutupan “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info)

(Jawa Barat, MADINA): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu (1/11) siang, memberikan pembekalan kepada para penggiat alam terbuka “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dalam rangka penutupan pelatihan penanganan bencana alam. Pelatihan ini merupakan kerja sama antara Badan Survey dan Pemetaan Nasional (Basurtanal), Mitigasi Bencana ITB, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD, dan Perhimpunan Pecinta Alam Wanadri.

Gladian Panji Geografi memberikan pelatihan yang difokuskan pada pengawasan dan penanganan rawan bencana. Tujuan nya adalah menjadikan personel-personel yang sukarela dan dapat mengapresiasikan kemampuannya dengan terjun langsung sebagai orang terdepan dalam penanganan musibah akibat bencana alam.

Dalam laporannya, Komandan Jendral Kopasus, Mayjen TNI Pramono Edi Wibowo, menyebutkan terdapat 687 peserta, terdiri dari 600 pemuda dan 87 pemudi yang mewakili 26 provinsi dari Sumatera sampai dengan Papua. "Acara ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para pemuda pemudi dalam giat penanggulangan bencana, sehingga dapat menjembatani kerja sama masyarakat, lembaga non pemerintah, dan pemerintah sendiri dalam sebuah bencana," kata Pramono Edi Wibowo.

Sementara itu, Presiden SBY mengingatkan kembali bahwa era globalisasi mendatangkan sisi baik dan sisi buruk. Globalisasi juga mendatangkan benih-benih ketidakadilan yang harus kita tolak. Globalisasi juga memunculkan gaya hidup hedonisme, gaya hidup yang mengatakan bahwa semuanya bisa berjalan baik-baik saja. "Ini bertentangan dengan hakikat kehidupan itu sendiri. Tiap orang dan bangsa pasti mengalami masa dimana untuk mencapai tujuan mulia memerlukan perjuangan, kesabaran, keuletan, mental harus bisa, pikiran positif, jiwa terang, yang merupakan karakter dari manusia dan bangsa yang bersangkutan. Dengan karakter itulah sebuah bangsa bisa menuju masa depan lebih baik," kata SBY.

Oleh karena itu, Presiden mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang bertujuan membentuk karakter, latihan kepemimpinan. "Sesungguhnya semua itu akar dari patriotisme dan nasionalisme yang seharusnya kira pelihara dan bangun," SBY menambahakn.

Presiden SBY beserta Ibu Ani berkesempatan berfoto bersama seluruh anggota Gladian Panji Geografi. Setelah itu, Ibu Ani dan Presiden SBY juga melakukan penanaman pohon di lokasi.

Tampak hadir dalam rombongan Presiden, antara lain, Menko Polhukam Widodo AS, Mensesneg Hatta Rajasa, Mendagri Mardiyanto, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mentan Anton Apriyantono, Menhut MS Kaban, Menneg LH Rachmat Witoelar, Panglima TNI Djoko Santoso, serta Jubir Presiden Andi A. Mallarangeng.

SBY di Situ Lembang: "Anak-anak Indonesia Harus Back to Nature"

SBY memberi pegarahan pada penutupan pelatihan Gladian Panji Geografi di Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info) SBY memberi pegarahan pada penutupan pelatihan Gladian Panji Geografi di Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang. (foto: rusman/presidensby.info)

Anak-anak Indonesia harus mengubah paradigma agar bangsa ini menjadi lebih maju. "Anak-anak bangsa Indonesia harus back to nature, dan juga go local," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pengarahannya kepada para penggiat alam terbuka “Gladian Panji Geografi” di Situ Lembang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (1/11) siang.

"Rumah tangga, desa-desa, harus menjadi sabuk pengaman dan menjadi sumber pertumbuhan bangsa," Presiden menegaskan.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam, bahkan dunia internasional menyebut Indonesia sebagai mega bio-diversity. "Oleh karena itu, tidak ada di dalam kamus kita bahwa kita kekurangan pangan, kekurangan energi, kekurangan air karena, apabila semua yang kita miliki dikelola dengan baik, maka semuanya cukup untuk bangsa ini, bahkan bisa menolong bangsa lain," kata SBY. Karena itu Presiden mengajak kita untuk melakukan pembangunan yang berbasis pengetahuan, kebudayaan, dan sumber daya.

Dalam kesempatan itu juga, Presiden SBY berpesan kepada seluruh peserta untuk terus bekerja keras, mempererat persatuan dan kebersamaan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. Tiga hal yang harus dimiliki oleh setiap bangsa apabila ingin maju, yakni terus meningkatkan kemandirian bangsa, meningkatkan keunggulan serta daya saing yang tinggi, dan meningkatkan peradaban bangsa.

SBY dan Ibu Ani Tanam Pohon Damar

Presiden SBY menanam pohon Damardi depan Mess Kopassus, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) sore. (foto: rusman/presidensby.info) Presiden SBY menanam pohon Damardi depan Mess Kopassus, Situ Lembang, Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (1/11) sore. (foto: rusman/presidensby.info)

Tanam dan Pelihara Pohon. Itulah program yang digalakkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dimanapun melakukan kunjungan kerja, SBY dan Ibu Ani secara simbolis menanam pohon. Sabtu (1/11) siang, usai menutup pelatihan Gladian Panji Geografi, SBY dan Ibu Ani menanam pohon Damardi depan Mess Kopassus, Situ Lembang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Di tengah-tengah rintik hujan, Presiden dan Ibu Ani menanam pohon-pohon mungil tersebut yang kelak akan menjadi besar jika dirawat dengan baik. Damar adalah pohon yang dapat mencapai ketinggian 40 Meter. Damar atau Agathis Dammara adalah jenis pohon yang termasuk golongan kayu kelas satu, seperti Meranti dan Kruing.

Sekalipun berharga, bukan kayu pohon Damar yang diminati. Damar justru diambil getahnya. Sejak dahulu getah pohon Damar memiliki nilai tinggi sebagai bahan pembuat pernis dan cat. (mit/pressby.info)