Sabtu, 26 September 2009

MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN RI-64 DI PUNCAK GN. TAMPOMAS GANDAWESI KPALH KM FPTK UPI

Setelah kurang lebih 2 minggu merumuskan rencana kegiatan pendakian rutin setiap 2 bulan sekali naik gunung yang merupakan salah satu program kerja dewan pengurus XX GANDAWESI KPALH KM FPTK UPI divisi THAB (teknik hidup alam bebas), hasil rapat tanggal 29 juni 2009 menghasilkan keputusan yaitu acara mendaki rutin dilaksanakan sekaligus memperingati hari kemerdekaan RI yang ke 64 dan tempat yang disepakati adalah gunung tampomas, yang terletak di Kecamatan Cimalaka, Paseh, Conggeang, Buah Dua dan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang. banyak sekali pilihan waktu itu diantaranya, gunung galunggung, kawah putih dll. Akhirnya di sepakati gunung tampomas sebagai tempat yang cocok yang akan kami daki pada tanggal 16-17 agustus 2009. Alasan memilih gn. TAMPOMAS adalah karena gunung ini jarang didaki serta medannya tidak terlalu curam dan sangat cocok bagi pemula karena mempertimbangkan juga peserta yang akan di bawa tidak semuanya berpengalaman mendaki gunung.
Acara ini tidak hanya untuk anggota GANDAWESI saja tapi di buka bagi siapapun mahasiswa FPTK yang berminat. Pamphlet pun di pasang di mading FPTK . banyak yang berminat waktu itu, namun banyak diantara mereka yang mengurungkan niat karena biaya yang di targetkan waktu itu adalah Rp. 80.000,-. Menurut mereka lumayan mahal , serta banyak lagi alasan-alasan lainnya.
Kepastian yang ikut pada waktu itu adalah 9 orang semuanya anggota gandawesi, kendala waktu itu adalah masalah keuangan yang mana bertepatan dengan bulan tua. Kepanitiaanpun merangkap padawaktu itu. Pada hari minggu tanggal 16 agustus 2009,tepatnya pukul 10 : 10 WIB kami siap berangkat dan sebelumnya melakukan apel keberangkatan di halaman FPTK, Pembina dalam apel tersebut adalah Dede Heriadi selaku ketua dewan pengurus XX GANDAWESI KPALH KM FPTK UPI periode 2009/2010 dan apel di pimpin oleh Silas selaku ketua pelaksana kegiatan ini.
Yang pasti berangkat pada waktu itu adalah : Silas, Lucas Dian.P, Agun Okapiasa, Ruly Faitsal, zam-zam. T, Dinny Hanifa, Dimas Mardika, Taufik Sastra, Supyati. Namun tidak lama kemudian datang salah seorang ALB (Anggota Luar Biasa) yaitu Achmad Sumirat yang telat mengkonfirmasi, akhirnya kami berangkat dari 9 orang menjadi 10 orang, dari kampus menuju terminal cicaheum kami menggunakan angkot, perjalanan menuju cicaheum macet, yang pada akhirnya tiba ke terminal di luar targetan waktu. Setelah sampai ke terminal cicaheum kami naik bus jurusan bandung-cirebon kurang lebih 3 jam dan turun di cibereum, sumedang. Dari cibnereum kami menuju ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) menggunakan truk pasir kurang lebih 20 menit. Kami masak dan makan siang dulu di daerah dekat TPA. Tepat pukul 16.00 kamipun memulai pendakianmenuju puncak, sempat terlihat orang-orang yang berjalan menuju puncak, nampaknya tujuan mereka sama seperti kami. Sebelum nya kami mengisi air dulu untuk persiapan di puncak karena sumber air hanya ada di kaki gunung tersebut, itupun hanya mengandalkan satu sumber mata air saja, jadi kita harus sabar mengisi tempat air kita. Perjalanan kami sangat santai waktu itu, banyak hal baru yang kami temukan.
“Gagah nya dan indahnya si pinus tua yang berdiri tegak di kaki gunung ini seakan memberi gambaran bahwa merekalah yang menjadi sumber penghasilan masyarakat sekitar gunung tampomas dengan menyumbangkan getahnya, sungguh Tunan itu maha adil”.
semakin lama trek semakin menantang, sungguh perjuangan yang hebat serta kerjasama tim yang solid terbukti di sini, kami melakukan perjalanan malam tentunya dengan kepenuh hati-hatian, sekitar jam 10 malam akhirnya kami tiba di puncak tampomas, ternyata di luar dugaan kami, banyak sekali orang yang sudah membuat tenda di puncak, hamper saja kami tidak kebagian tempat, untunglah tim operasional tidak kehilangan akal dan menemukan lokasi yang lumayan untuk membangun tenda.
Suasana malam di puncak berbeda dengan kondisi alam biasanya, suara nyanyian, canda gurau serta suara radio seakan memecah keheningan malam. Sungguh menyenangkan, suasana seperti ini hanya aka nada pada waktu momen-momen tertentu aja. Tidak semua dari anggota tim kami yang tidur nyenyak pada m,alam itu, bahkan ada yang melihat binatang sejenis kera yang melintas diantara tenda kami. Saya sendiri tidur di tanah yang tidak rata tapi tetap nyenyak tidur.
Suasana pagi juga riuh pada waktu itu, banyak yang foto-foto dan menikmati sunrise , tidak terkecuali tim kami yang dari kemarin sudah menantikan indahnya sunrise di pagi hari. Sungguh indah ciptaan Tuhan.
Setelah foto-foto kami masak sambil bercanda gurau, sambil mempersiapkan upacara, kelompok lain sudah ada yang melaksanakan upacara. Setelah selesai makan siang kami akhirnya briefing sebentar untuk persiapan upacara, waktu itu anggota kami bertambah 2 orang anak smp kebetulan sekampung dengan ruli, mereka juga ikut upacara dan ingin pulang bareng tim kami. Upacara pun di laksanakan
Upacara berlangsung sekitar seperempat jam, pada saat upacara sedang berlangsung pendaki-pendaki yang lain juga ikut menghormati bendera merah putih sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia yaitu lagu “Indonesia Raya”, yang membacakan teks proklamasi adalah geng Bozem dan sekaligus menjadi pembina upacara ,upacara di pimpin oleh silas.
Selesai upacara kami foto-foto dulu sebelum akhirnya turun ke bawah menuju kampung geng Ruly yang terletak di bawah gunung Tampomas. Ada sedikit kesalahan waktu itu, geng Ruly kurang ingat perjalananan pulang yang akhirnuya membawa kami ke makam keramat yang tidak jauh dari puncak gn. Itu, kamipun naik lagi ke puncak dan menemukan trek yang benar, sungguh trek yang curam dan lumayan jauh jika di bandingkan dengan perjalanan keberangkatan, beruntunglah cuaca sangat mendukung untuk perjalanan ini.
Sungguh pemandangan yang unik, indahnya kabupaten sumedang terlihat sebagian, dari siang sampai sore akhirnya kami tiba di perkebunan pinus, hal ini membuat hati terhibur karena tanda-tanda dekat perkampungan sudah dekat, sambil berjalan kami di suguhkan dengan suasana kesejukkan pohon pinus, di tengah pepohonan pinus tersebut terdapat sebuah batu besar yang di jadikan tempat sesajen, sungguh menggambarkan kebudayaan yang masih terjaga walaupun di larang oleh agama manapun.
Hal yang paling menggembirakan lagi adalah ketika kami tiba di pusat mata air, terlihat di situ banyak orang yang beristirahat dambil melepas dahaga setelah melakukan perjalanan yang panjang, kami juga istirahat sambil ngopi dan pastinya bercanda. Setelah itu kami melanjutkan menuju ke kampung geng ruly, namun tiba-tiba rasa gembira tersebut berubah .. perjalanan masih panjang dan melewati banyak persimpangan yang membuat tim kami tersesat hampir satu jam, hal yang membuat jengkel adalah persediaan air sengaja tidak kami bawa. Dapat dibayangkan jika tersesat di lembah yang di selimuti oleh pohon-pohon, memang sih jalan yang kami lewati merupakan jalan untuk di lewati mobil perkebunan, untung ada seorang warga yang lewat , kamipun bertanya ke beliau, dan ternyata sudah lumayan jauh tersesat, kami balik lagi dan melewati jalan yang di anggap lunayan benar, tampaknya lucu tapi banyak hal yang kami dapatkan dari kejadian ini. Mulai dari pengendalian emosianal, percaya kepada operasional serta survival, hah,...”survival”, kog bisa??? Hal unik adalah survival, kami melewati perkebunan warga dan tujuan awal hanya mau bertanya saja namun tidak ada orang sehingga membuat kami tertarik pada sebatang pohon, ya..pohon itu adalah pohon kelapa, coba pembaca bayangkan seandainya sedang haus namun tidak ada air setetespun, tapi memandang buah kelapa muda!!
Untung geng Silas kebetulan masa lalunya tukang panjat kelapa jadi gak masalah pohon kelapa setinggi apapun, eh...ternyata teman geng Ruly yang masih SMP itu juga hebat memanjat kelapa lho.. kami minum secukupnya dan makan daging kelapa muda, setelah energi bertambah kami melanjutkan perjalanan yang pada akhirnya tiba juga dengan selamat ke kampung geng Ruly tepat menjelang maghrib.
Kami di sambut oleh keluarga ruly dan makan malam, kami bersantai di beranda rumah ruli sambil bercerita dengan ayah ruly yang menceritakan tentang banyak hal, yang tentunya sangat bermanfaat bagi kami semua. Pukul 19.30 kami akhirnya pamitan dan pulang, tapi singgah dulu ke permandian air panas di sumedang, sungguh menurut saya suatu hal yang baru pertama kali, tubuh terasa segar dan rasa lelah terbayarkan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke bandung, hingga akhirnya tiba di sekre dengan selamat hanya kekurangan satu hal, yaitu sepetu geng Dinny ketinggalan di angkot. Ini merupakan kegiatan rutin THAB perdana yang di lakukan selama kepengurusan dewan pengurus gandawesi XX, dua bulan lagi acara mendaki rutin ini akan dilaksanakan, semoga kegiatan ini merupakan ajang untuklebih memperertat hubungan emosianal semua anggota gandawesi, siapapun anggota yang telah membaca tulisan ini baik AM, AB, maupum ALB dapat ikut lebih banyak lagi untuk kegiatan-kegiatan berikutnya. Trimakasih untuk semua terutama kepada anggota luar biasa yang sudah memberikan sumbangan baik moril maupun material. Gandawesi tetap jaya.
GW.21.170.GS

Tidak ada komentar: